MAJULAH PENDIDIKAN SAMPANG

Selasa, 28 November 2017

Artikel : Belajar di Alam Lebih Meningkatkan Gairah Belajar IPA Siswa

BELAJAR  DI  ALAM  LEBIH
MENINGKATKAN  GAIRAH  BELAJAR  IPA  SISWA

Bagi siswa, belajar hal yang konkrit  lebih mudah daripada
belajar  hal  abstrak, dan belajar di alam lebih menyenangkan
daripada  belajar  di  dalam  kelas.

Oleh : 

Mohamad  Juri, S.Pd, MMPd
                                                                                   

Kepala SMPN Satap 2 Tambelangan

Dari hasil  penetian  yang  dilakukan  oleh  beberapa  lembaga  yang  berkompetensi  untuk  meneliti  dunia  pendidikan, diperoleh  suatu hasil  seperti (1) The third International Mathematics and science study Repeat (1999) bahwa kemampuan siswa di bidang matematika dan IPA menempati urutan ke 34 dan  32  dari  38 negara. (2) menurut Human Developmen Index tahun 2002 dan 2003, mutu  pendidikan kita berada pada peringkat 110 dari 173 negara  dan 112 dari 175 negara  yang  diteliti.  Kesimpulannya bahwa  mutu  pendidikan di negara  kita  tergolong  rendah, bahkan lebih  rendah dari  negara  Vietnam.  Dengan berbagai hasil  tersebut tentu kita  bertanya –tanya ada apa  dengan sistem pendidikan kita ?  Apanya yang salah dengan pendidikan kita ?  Apa  yang harus kita  lakukan  untuk  dapat  meningkatkan mutu pendidikan negara  kita.  Berbagai pertanyaan  akan muncul  dari  benak  kita  selaku orang  yang berkecimpung  dalam  dunia  pendidikan. Hal yang  demikian  juga muncul  dalam  diri penulis. Hal  tersebut  tentunya  menggugah  kita  semua selaku  insan  yang  bersentuhan  langsung  dengan  pendidikan  untuk  lebih  berdaya  upaya  untuk  meningkatkan  mutu  pendidikan  lebih  khusus lagi  mutu pembelajaran.
            Pemerintah  yang  dalam hal  ini  paling  bertanggung  jawab  terhadap  penyelenggaraan  Sistem  Pendidikan Nasional  telah  melakukan  berbagai  upaya  sebagai  langkah  in servece  training  melakukan  berbagai  penataran  dan  Diklat, untuk  meningkatkan  mutu  dan  kompetensi  guru.  Hal  tersebut  tentu  karena  adanya  suatu  asumsi  bahwa “ Terdapat korelasi  yang  cukup  signifikan  antara kompetensi guru dengan  kemampuan  guru  tersebut dalam  merancang  strategi  pembelajaran, sehingga  pada akhirnya  akan dapat  pula  meningkatkan  prestasi  belajar  siswa “. Guru  yang  bermutu  dan guru yang  memiliki  kompetensi  paedagogis  yang  mantap  akan  dapat  menciptakan  suasana  pembelajaran  yang  lebih  menarik,  menantang, memberikan  kesan  yang  bermakna  bagi  dan menyenangkan.  Lalu  langkah  kiat – kiat  apa  yang  seharusnya  dilakukan  oleh  guru  untuk  menciptakan  hal – hal  yang  diharapkan  di  atas.
            Katakanlah  dalam pembelajaran  IPA, agar  pembelajaran  IPA  yang  difasitasilitasi  oleh  guru  dapat  menciptakan  suasana  pembelajaran  yang  menarik, menantang, dan bermakna  bagi  siswa, guru  harus  pandai –pandai  merancang  strategi  pembelajaran, memanfaatkan  multi media, dan  multi  metode, multi aspek (logika, praktika, estetika ).
            Pembelajaran  IPA  yang  saat  ini  berlangsung  di  lapangan  umumnya  verbalisme,  artinya  guru  cenderung  untuk  menjelaskan  materi – materi  IPA  dan  konsep –konsep  IPA  dengan  menggunakan metode  ceramah  yang  notabene  merupakan  metede  termudah  dan  termurah.  Tetapi  dengan  cara  konvensional  semacam ini, apakah  makna  dari  belajar atau  learning  itu  sendiri tersentuh ?  Dan  apakah  dengan  cara – cara  belajar  semacam ini  susuai  dengan eksistensi   psikologis  siswa  Sekolah  Dasar  itu sendiri.  Cara – cara  belajar  IPA  yang  semacam ini  tentu  jauh  dari  kahikat  IPA  itu  sendiri.  Nada  sinis yang  sering  dijadikan  kelakar  bahwa  cara  mengajar  seperti  itu  dikatakan  “ Sastra  IPA.” Artinya  tidak  ada  bedanya  antara  pembelajaran  bahasa  Indonesia  dengan IPA. 
            Untuk  menciptakan suasana yang  berbeda  dengan hal  tersebut  tentu  dibutuhkan  kompetensi  profesional  yang  tinggi, dan  pemahaman  terhadap  siswa  itu  sendiri. Piaget, mengemukan  bahwa tahapan  berpikir siswa  sekolah  dasar  berada  pada  tahapan  konkrit  operasional, artinya  dalam  pembelajaran  siswa  hendaknya  dihadapkan  pada  hal –hal  yang  konkrit,  atau  hal-hal  nyata  yang  ada  disekitar  siswa  dan  dikenal  oleh  siswa.  Ada sesuatu  yang  salah  dalam  cara-cara  pembelajaran IPA  yang  umumnya dilakukan  teman-teman  guru  kebanyakan.  Hal  yang  salah  itu  yaitu sebelum  siswa  masuk  dunia  sekolah  siswa  umumnya (1) lincah, (2) Selalu belajar apa yang  diinginkannya dengan gembira, (3) menggunakan segala sesuatu yang ada di lingkungan  sekitar yang menarik perhatiannya, (4) membangun sendiri pengetahuan dan  pemahaman lewat pengalaman nyata sehari –hari.  Hal ini bertentangan dengan setelah anak masuk ke dunia persekolahan, yaitu (1) anak dipaksa belajar  dengan cara guru, (2) pembelajaran berlangsung tegang, (3) suasana belajar kurang menarik dan kurang bermakna. Cara –cara  seperti ini yang  secara  konvensional  terjadi  di lapangan.
            Untuk  menjawab  masalah –masalah  di atas diperlukan langkah- langkah  inovatif, yang  menjadikan kita  keluar  dari  suatu  kebiasaan yang  selama  ini  kita lakukan.  Guru  hendaknya  terus  mengikuti  teori-teori  baru  dalam dunia pendidikan,yang menjadikannya memanfaatkan strategi belajar aktual dan kontektual.
Sebagai  misal  kalau  guru sedang  membahas tentang  konsep  ekosistem,  komunitas, pupulasi, tumbuhan ( bagian –bagian  tumbuhan ), akan  menjadikan  hal lucu  apabila hal  tersebut diajarkan  di dalam kelas  dengan metode ceramah. Pembelajaran IPA  semacam ini  akan menciptakan pembelajaran IPA  yang  kering dari  nilai –nilai IPA. 
Tetapi  akan  tercipta  hal yang  sebaliknya  jika siswa  belajar  tentang  komunitas  sawah  dan  siswa  benar-benar  berada di sawah.  Siswa belajar  tentang  komunitas  kolam, siswa  melihat, mengamati,  sendiri berbagai makluk  hidup  yang  ada kolam tersebut.  Ketika  siswa  belajar  tentang  jenis-jenis  tulang daun, bagian –bagian bunga, siswa  pergi  memetik daun sendiri, memetik  dan mengamati  sendiri dan  menggambarkan  sendiri  bagian –bagian bunga.  Selanjutnya sambil  mencari tempat  yang  teduh  dibawah  pohon- pohon yang  rindang, siswa  membahas hal-hal yang  ditugaskan  oleh  guru, bertanya  tentang  gagasannya yang  berhubungan  dengan  alam sekitar,  dan  mempertanyakan gagasan  orang  lain  tentang  alam sekitar. Cara-cara  belajar  semacam ini  dan  cara  kerja  semacam  ini  telah menciptakan saintis – saintis muda.  Tentu  hal  ini  akan  sangat  berbeda  dengan  suasana  pembelajaran  tentang  konsep – konsep  tersebut  hanya  bermodalkan kapur  dan  papan tulis, dan  menerapkan  cara  belajar  CBSH ( cata buku sampai habis ). Dan  akan tercipta  hal yang sangat  mengharukan  apabila guru mengajarkan  konsep  IPA  yang  sebenarnya  materinya sangat  kaya  di  lingkungan  sekitar tetapi  guru  mengajarkannya  dengan cara berikut:
“ Anak- anak  coba kalian catat  materi tentang  ekosistem , dari halaman ... sampai  halaman ...., ingat  kalian  hafalkan  materi  itu, karena minggu  depan  kita  ulangan !”     
Membawa siswa  langsung  ke alam  sebenarnya  merupakan  model  pembelajaran kontekstual. Sebab dengan  belajar  secara  langsung  di  alam  siswa dapat (1) membangun keterkaitan  antara informasi ( pengetahuan baru ) dengan pengalaman ( pengetahuan lain ) yang  telah mereka miliki  atau mereka kuasai. (2) mereka diajarkan bagaimana mereka mempelajari konsep, dan bagaimana konsep tersebut  dipergunakan di dunia nyata di luar  kelas.
Membawa  siswa untuk  belajar  langsung  di  alam, lebih  mendekatkan makna  dan  hakikat  dari  belajar ( learning )  itu  sendiri.
Belajar  pada  prinsipnya  adalah  proses membangun  makna, dan tercipta  antara  interaksi  siswa  dengan lingkungan. Sedangkan  perananan guru dalam rangka  kegiatan  pembelajaran  berperan  sebagai  fasilitator dan motifator.
Akhir datulisan ini  hendaknya merupakan suatu yang  perlu kita pikirkan dan kita pertimbangkan barsama, yaitu: (1) Kalau disekitar kita  tersedia lingkungan alam yang  sangat  kaya dengan data dan sumber belajar  mengapa tidak kita manfaatkan ?    (2)  Kalau  siswa  lebih mudah  belajar  hal- hal yang konkrit  mengapa kita mengajarkannya  secara abstrak ? (3) Kalau di lingkungan kita  tersedia sumber belajar  yang  murah, mengapa kita memilih yang mahal ? (4) Kalau siswa belajar langsung di alam lebih menggairahkan cara belajarnya mengapa tidak kita turuti ?
Marilah kita renungkan bersama hal-hal tersebut, semoga bermanfaat. 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Soal OSN SMP

LOMBA BACA PUISI PADA PEKAN SENI PELAJAR KAB. SAMPANG 2018

Pembukaan  Lomba Pekan Seni Pelajar Tahun 2018 Kabupaten Sampang Penampilan Peserta Lomba Puisi  oleh Siswi SMPN Satap 2 Tambel...